Tidaklah benar seandainya kita cuma menganggap aqiqah hanya sebagai pengorbanan. Sebaliknya, aqiqah ialah nama dari kebiasaan yang dilestarikan di kalangan orang Arab, di mana seekor hewan dikorbankan dan darahnya dituangkan ke atas kepala buah hati itu, sesudah itu, kepala anak itu dicukur. Dipercayai bahwa sampai perbuatan seperti itu dikerjakan atas anak itu, si kecil itu konsisten menjadi korban musibah dan penderitaan. Ketika Nabi ditanya tentang kebiasaan ini, dia dilaporkan menjawab bahwa ia tak menyetujui aqiqah. Namun, pada saat kelahiran seorang si kecil, seandainya ada yang berharap mengorbankan seekor binatang sebagai pedoman terima beri kepada Allah subhanahu wa ta\’ala karena telah diberkati dengan seorang si kecil, dia boleh mengerjakannya. Hal ini wajib dijalankan dalam rangka beribadah kepada Allah semata, dan mengganti darah yang diusapkan ke kepala anak bayi yang baru lahir dengan minyak wangi kesturi. Kecuali itu, sekiranya anda mencari jasa aqiqah terbaik, anda dapat mencoba jasa Aqiqah di Purwakarta.

Apabila kita meneliti dengan seksama motivasi dan praktik aqiqah, kita bisa dengan mudah memperhatikan bahwa budaya ini didasarkan pada takhayul perihal masa depan buah hati, yang terang-terang bertentangan dengan ajaran Islam. Terang bahwa pada tahap tertentu, di umur buah hati, aqiqah tak bisa menjadi kewajiban atas buah hati. Yang paling bisa dikatakan ialah itu patut bagi orang tua buah hati. Melainkan, jika itu masalahnya, lalu mengapa si kecil itu seharusnya dihukum seumur hidupnya, kalau orang tuanya gagal memenuhi sesuatu yang diwajibkan bagi mereka? Seluruh konsep tersebut tampaknya tidak konsisten dengan ajaran dasar Islam, yang menurutnya tiap-tiap individu cuma bertanggung jawab atas perbuatannya sendiri.

Jadi, menurut anggapan aku, tampaknya Nabi salallahu \’alaihi wa salam dilaporkan dengan benar telah menghambat orang untuk menegakkan adat yang dimaksud. Tetapi demikian, dalam narasi yang sama, Nabi salallahu \’alaihi wa salam juga dilaporkan sudah menunjang ayah dari buah hati yang baru lahir untuk mempersembahkan kurban dalam ibadah aqiqah, sebagai pertanda terima beri kepada Tuhan mereka, karena memberkatinya dengan seorang buah hati. Selama bertahun-tahun, kultur berkorban ini kemudian diketahui sebagai aqiqah.

Jumlah hewan yang dikorbankan sebagai petunjuk terima kasih tidak konsisten. Orang tersebut dapat mengorbankan satu atau lebih binatang, tergantung pada posisi keuangan dan ketersediaan binatang.